Hari Sumpah Pemuda, Orang Muda Sumsel Tuntut Pemerintah Hentikan Warisan Krisis Karhutla

Berita24 Dilihat

PALEMBANG, SEPUTARSUMATERA.COM – Orang muda Sumatera Selatan (Sumsel) menyerukan penghentian pembiaran terhadap kerusakan ekosistem gambut dan krisis kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang terus berulang.

Seruan tersebut disampaikan melalui aksi publik yang menuntut pemerintah untuk memperkuat perlindungan gambut, membuka informasi penanganan karhutla, serta memastikan pertanggungjawaban mutlak aktor utama yang menyebabkan atau membiarkan kerusakan.

Hasil analisis Pantau Gambut menunjukkan bahwa 525.654 hektare Kawasan Hidrologis Gambut (KHG) di Indonesia telah terbakar sepanjang Januari-September 2026.

Dari jumlah tersebut, 99.906 hektare berada di Sumatera Selatan. Pada periode yang sama, Sumatera Selatan tercatat memiliki 42.078 sebaran titik panas (hotspot), menempati peringkat ketiga terbanyak secara nasional dan menjadi yang tertinggi di Pulau Sumatra.

“Kami menolak anggapan bahwa karhutla adalah fenomena alam biasa yang datang setiap musim kemarau. Kebakaran yang terus berulang menunjukkan ada persoalan serius dalam cara ekosistem gambut dikelola dan dilindungi oleh korporasi dan pemerintah. Generasi muda tidak seharusnya mewarisi udara beracun dan beban dari keputusan yang tidak kami buat,” ujar Zelfan Ramadhan perwakilan pemuda penyelenggara aksi.

READ  Jaga Kelancaran Pasokan Nasional, BPH Migas Pastikan Keandalan Produksi BBM Pertamina Patra Niaga Kilang Dumai

Luasnya area kebakaran dan hotspot di Sumsel, semestinya mendorong evaluasi terbuka dan transparan atas kebijakan pencegahan dan penegakan hukum di ekosistem gambut. Pemerintah pusat dan daerah perlu menjelaskan bagaimana krisis berulang ditanggulangi, siapa pemegang izin atau pengelola lahan di lokasi terdampak, serta langkah apa yang diambil terhadap pelanggaran.

Pemuda Sumsel juga menuntut agar masyarakat yang paling terdampak tidak ditempatkan hanya sebagai penerima bantuan saat bencana terjadi. Warga, komunitas lokal, masyarakat adat, kelompok perempuan, tenaga kesehatan, dan orang muda harus dilibatkan dalam pemantauan, penyusunan kebijakan serta evaluasi pemulihan.

Informasi mengenai penegakan hukum, lokasi kebakaran, risiko kesehatan, dan respons pemerintah perlu disampaikan secara cepat dan mudah diakses. Penanganan darurat harus berjalan bersamaan dengan pemulihan jangka panjang, bukan sekadar reaksi seremonial sesaat.

Juru Kampanye Pantau Gambut Putra Saptian mengatakan, karhutla merupakan warisan krisis yang terus dilanggengkan. Keuntungan dari eksploitasi lahan hanya dinikmati segelintir kelompok yang tidak tersentuh, sementara biaya sosial dan ekologisnya ditanggung lebih lama oleh masyarakat luas.

READ  Pertamina Patra Niaga Regional Sumbagsel Dukung Pokdarwis Berage Kembangkan Potensi Wisata Burong Mandi

Anak-anak dan orang muda menghadapi risiko gangguan kesehatan akibat asap, terganggunya proses pembelajaran, berkurangnya sumber penghidupan keluarga, serta masa depan lingkungan yang semakin rentan terhadap kekeringan dan kebakaran.

Melalui aksi tersebut, pemuda mendesak pemerintah untuk memeriksa kepatuhan pemegang izin dan pengelola lahan di wilayah kritis serta menindak tegas pembakaran dan pelanggaran yang telah terbukti.

Pemerintah juga harus mengukur keberhasilan bukan hanya dari luas api yang berhasil dipadamkan, melainkan dari berkurangnya kejadian kebakaran berulang setiap tahun, pulihnya fungsi hidrologis gambut, dan meningkatnya perlindungan bagi warga. #PeatlandIsNotWasteland pantaugambut.id.

“Kami tidak ingin setiap tahun hanya menghitung luas lahan terbakar, jumlah titik panas, dan warga yang terdampak krisis, lalu mengulang respons yang sama. Yang dibutuhkan adalah perubahan kebijakan dan keberanian untuk menindak sumber kerusakan,” ujarnya.

Gambut bukan lahan kosong yang menunggu dibakar, gambut adalah penyangga kehidupan. Jika kerusakannya terus dibiarkan, yang diwariskan kepada generasi berikutnya bukan kemakmuran, melainkan krisis yang semakin mahal untuk dipulihkan,” kata Zelfan Ramadhan.

READ  Pastikan Perayaan Misa Pagi Natal 2025 Aman dan Lancar, PLN UID S2JB Gelar Siaga dan Monitoring Terpusat

Kenapa Karhutla Gambut Terus Berulang ?

Karhutla gambut bukan bencana yang datang tiba-tiba. Ia terjadi hampir setiap tahun, di wilayah yang sama, dengan pola nyaris identik, dan itu bukan kebetulan.

Gambut Indonesia menyimpan sekitar 57 gigaton karbon yang berfungsi sebagai penyeimbang iklim, tapi begitu dialih fungsi dan dikeringkan, ia berubah jadi bahan bakar raksasa yang mudah tersulut dan sangat sulit dipadamkan karena api menjalar di bawah permukaan tanah.

Ketika api melalap, jarang ada pihak yang benar-benar dimintai pertanggungjawaban. Proses hukum terhadap korporasi pemegang izin kerap berhenti, berakhir dengan sanksi yang tak sebanding dengan kerugian yang ditanggung masyarakat.

Tanpa penegakan yang konsisten, karhutla akan kembali terjadi tahun depan, di lokasi yang sama. Informasi lebih lanjut mengenai gambut dapat diakses melalui tautan pantaugambut.id/pelajari#kebakaran-hutan-lahan-gambut.