Konferensi Ilmiah Simpul Pangan Nusantara di Palembang, Solusi Membangun Kemandirian Pangan Sumsel

Berita12 Dilihat

PALEMBANG, SEPUTARSUMATERA.COM – Badan Riset dan Inovasi Daerah (BRIDA) Provinsi Sumatera Selatan (Sumsel), Universitas Sriwijaya (Unsri) dan ICRAF Indonesia, yang kini memakai nama operasional Landscape Alliance, menggelar konferensi ilmiah Simpul Pangan Nusantara di Grand Atyasa Convention Center, Palembang, Rabu (28/10/2026).

Sebanyak 29 makalah dan 10 poster ilmiah yang dipresentasikan, membahas berbagai cara membangun kemandirian pangan Sumatera Selatan (Sumsel), mulai dari kebun pekarangan rumah tangga hingga tata kelola lanskap gambut.

Acara dibuka oleh Kepala BRIDA Sumsel Regina Ariyanti. Wakil Dekan Fakultas Pertanian Universitas Sriwijaya Bidang Penelitian dan Pengabdian Masyarakat Prof. Susilawati dan Direktur Asia Landscape Alliance Dr. Sonya Dewi menyampaikan pidato ilmiah kunci.

Sesi makalah terbagi dalam empat tema paralel: inovasi tingkat tapak, agroforestri, dan pertanian cerdas iklim, kelembagaan, gender, inklusi sosial, dan ekonomi komunitas, diversifikasi konsumsi, sistem pangan lokal, dan resiliensi gizi komunitas, serta tata kelola lanskap, pemetaan spasial, dan resiliensi kebijakan.

“Tema hari ini, yang fokus pada inovasi tingkat tapak, agroforestri dan pertanian cerdas iklim, GEDSI, dan ekonomi komunitas, sangat selaras dengan visi pembangunan Sumatera Selatan,” kata Kepala Brida Sumsel.

Ia juga mengungkapkan harapan bahwa konferensi ini dapat membantu BRIDA merumuskan rekomendasi kebijakan pangan yang adaptif dan berbasis data untuk Sumsel.

Kedua pidato ilmiah kunci menekankan peran pangan lokal dalam menunjang sistem pangan berkelanjutan. Pangan lokal adalah pangan yang didapatkan dari sumber lokal serta dikenal dan dimanfaatkan oleh masyarakat.

Prof. Susilawati menjelaskan salah satu peran penting akademisi ialah mendokumentasikan praktik pangan lokal.

READ  Pertamina Patra Niaga Sumbagsel Dukung Lansia Hidup Sehat Sekaligus Peduli Lingkungan di Jambi

“Tidak hanya mengidentifikasi dan mencatat, tetapi juga mengkaji, menguji, dan menyebarluaskan pengetahuan serta inovasi yang berkembang di tengah masyarakat,” ujarnya.

Direktur Asia Landscape Alliance Dr. Sonya menyoroti peran hutan dalam menunjang sistem pangan berkelanjutan.

“Hutan menyediakan manfaat pangan secara langsung maupun tidak langsung, serta jasa ekosistem untuk pertanian termasuk habitat bagi hewan penyerbuk,” katanya.

Menurutnya, berkurangnya tutupan hutan dapat mendorong erosi pengetahuan tentang pangan lokal dan pergeseran pola pangan masyarakat ke pangan olahan atau pangan dengan rantai pasok yang panjang.

Hal tersebut pada gilirannya meningkatkan kebutuhan lahan untuk produksi pangan, yang kemudian menambah tekanan pada hutan. Ia menawarkan riset dan edukasi pangan lokal, agroforestri, serta integrasi kebijakan pangan dan lahan sebagai cara untuk memutus siklus tersebut.

Palembang menjadi lokasi seri ketiga sekaligus terakhir dari rangkaian regional Simpul Pangan Nusantara. Dua seri sebelumnya berlangsung di Kupang pada 16 September dan di Makassar pada 7 Oktober.

Secara keseluruhan, ketiga seri telah menghimpun 103 makalah dan 47 poster ilmiah. Makalah terpilih akan diterbitkan dalam prosiding ber-ISBN.

Direktur ICRAF Indonesia Andree Ekadinata mengatakan rangkaian Simpul Pangan Nusantara menunjukkan bahwa pengetahuan tentang pangan lokal dan ketangguhan iklim sudah ada di kampus, lembaga riset, dan kebun petani.

“Tugas kita sekarang adalah memastikan pengetahuan itu tidak berhenti di prosiding, tetapi sampai ke meja perencanaan daerah,” ujarnya.

Konferensi yang jatuh pada Hari Sumpah Pemuda ini juga memberi ruang bagi generasi muda. Dalam Semeja Makan, dialog multipihak yang dipandu Andree Ekadinata, mahasiswa Politeknik Negeri Sriwijaya pemenang lomba esai duduk satu meja dengan perwakilan BRIDA Sumatera Selatan, dosen Universitas Sriwijaya, dan pegiat WikiPangan Sumatera Selatan.

READ  Pertamina Patra Niaga Sumbagsel Sulap Limbah Serbuk Bambu Menjadi Peluang Usaha melalui Budidaya Jamur Tiram

Ketahanan Pangan dan Gizi

Simpul Pangan Nusantara adalah bagian dari penutupan kegiatan proyek riset-aksi Land4Lives di Sumatera Selatan. Proyek ini didukung oleh Global Affairs Canada dan diimplementasikan oleh ICRAF Indonesia bekerja sama dengan Pemerintah Kabupaten Banyuasin, KPH Lalan Mendis, dan Pemerintah Provinsi Sumsel sejak 2021.

Land4Lives bertujuan memperkuat ketahanan pangan dan penghidupan masyarakat rentan, terutama perempuan, dalam menghadapi tantangan iklim. Di banyak wilayah di Indonesia, perubahan iklim berdampak pada pola curah hujan, mengakibatkan kemarau panjang dan banjir yang mengganggu kalender tanam dan menurunkan produktivitas pertanian.

Kegiatan Land4Lives di Sumatera Selatan berfokus pada pengelolaan bentang lahan, khususnya wilayah Kesatuan Pengelolaan Hutan Lalan Mendis dan Kesatuan Hidrologis Gambut Saleh Sugihan. Beriringan dengan itu, Land4Lives melakukan penguatan ketahanan pangan dan penghidupan petani di desa.

Lima tahun berjalan, Land4Lives mencatat bahwa ketahanan pangan rumah tangga tidak hanya ditentukan oleh ketersediaan produksi. Stabilitas pendapatan, keterjangkauan harga pangan, akses pasar, dan kemampuan rumah tangga menghadapi guncangan juga ikut menentukan.

Di tingkat desa, Land4Lives mendampingi pembangunan 21 kebun pangan komunal dan 347 kebun pekarangan keluarga, yang ditopang dua rumah benih lokal. Sebanyak 589 warga, 82 persen di antaranya perempuan, mengikuti peningkatan kapasitas tentang pangan lokal, gizi, dan ketahanan iklim.

READ  Hujan Turun Usai Salat Istisqa, Jamaah Pesantren Aulia Cendikia Tetap Berzikir di Bawah Guyuran Air

Edukasi gizi berbasis prinsip Beragam, Bergizi, Seimbang, dan Aman (B2SA) serta Isi Piringku kini diintegrasikan ke dalam program Desa B2SA, yang dibiayai DAK nonfisik dan dijalankan Dinas Ketahanan Pangan Kabupaten Banyuasin. Pendekatan ini telah memperkuat tujuh kelompok tani di tujuh desa penerima program, dengan melibatkan lebih dari 300 fasilitator dan petani.

Di jenjang pendidikan, Land4Lives bersama Dinas Pendidikan Sumatera Selatan mengembangkan kurikulum muatan lokal ‘Pangan Lokal untuk Ketahanan Iklim’ untuk SMA, SMK dan SLB.

Kurikulum ini disahkan melalui Keputusan Gubernur Sumsel Nomor 822/KPTS/DISDIK/2025 dan telah disosialisasikan ke lebih dari 500 sekolah. Pengalaman tersebut turut menjadi rujukan dalam panduan kurikulum muatan lokal pangan lokal dan B2SA, yang disusun Badan Pangan Nasional dan Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah bersama ICRAF.

Sebagai pelengkap, komunitas WikiPangan Sumatera Selatan telah menulis lebih dari 250 artikel tentang bahan dan olahan pangan Sumatera Selatan sejak 2023. Artikel-artikel ini menjadi bagian dari 830 artikel di WikiPangan.id dan kini dimanfaatkan sebagai bahan ajar bagi guru muatan lokal.

Di tingkat provinsi, Land4Lives turut mengawal pengarusutamaan ketahanan iklim, ketahanan pangan, dan keadilan gender ke dalam RPJPD Sumatera Selatan 2025–2045 dan RPJMD Sumatera Selatan 2025–2029. Kedua dokumen tersebut antara lain memuat arah diversifikasi sistem pangan lokal yang tangguh iklim.

Rangkaian penutupan Land4Lives di Sumatera Selatan berlanjut dengan diseminasi hasil ‘Jejak Kolaborasi Land4Lives di Sumsel’ di Kantor Bappeda Provinsi Sumatera Selatan pada 29 Oktober 2026.