Merawat Tradisi Umah Pawon Bali, Dari Sejarah Jadi Daya Tarik Mancanegara

Berita21 Dilihat

BALI – Decak kagum para turis asal Australia, terdengar jelas ketika memandang bangunan-bangunan tua yang berjejer di Desa Penglipuran, Kelurahan Kubu Kecamatan Bangli Kabupaten Bali Bali.

Tradisi bangunan lawas khas Bali yang masih dipertahankan, tak dilewatkan para turis untuk diabadikan lewat kamera ponselnya.

Di palang pintu, beberapa turis hingga wisatawan lokal juga tampak sumringah, ketika dipotret menggunakan pakaian adat khas Bali di lalu lalang pengunjung Desa Penglipuran.

Di sudut lain, salah satu turis terhipnotis saat mendengar dentingan irama musik dari alat musik tradisional Rindik, yang dimainkan oleh Ketut Cedung.

Tangan pria Bali berusia 70 tahun tersebut tampak lincah saat memukul-mukul deretan deretan bambu yang menghasilkan suara yang merdu.

Salah satu turis mancanegara terkesima dengan permainan musik Rindik yang dimainkan Ketut Cedung, di salah satu rumah di Desa Penglipuran Bangli Bali
Salah satu turis mancanegara terkesima dengan permainan musik Rindik yang dimainkan Ketut Cedung, di salah satu rumah di Desa Penglipuran Bangli Bali

“Ini namanya musik Rindik, alat musik tradisional kami,” ucap Ketut Cedung kepada salah satu turis.

Setelah terkesima dengan penampilan Ketut Cedung, tuis bule tersebut melanjutkan langkahnya melihat Umah Pawon dan Bale, dua bangunan lawas yang menjadi tempat tinggal Ketut Cedung.

Nyoman (65), istri dari Ketut Cedung menyambut ramah kehadiran turis bule tersebut, yang mengintip dari luar Umah Pawon untuk melihat apa saja yang ada di rumah tradisional khas Bali tersebut.

READ  Dari Usaha Rumahan, Warga Lubuklinggau Bangun Kemandirian Ekonomi Bersama Pertamina Patra Niaga Regional Sumbagsel

Walau barang-barang di sana terkesan jadul, namun kedua pasangan suami istri (pasutri) tersebut sangat telaten merawatnya. Susunan barang-barang juga begitu rapi, mulai dari kasur hingga alat dapurnya yang masih menggunakan kayu bakar.

Kendati tidak saling bersapa, namun senyum hangat Nyoman, mencirikan sambutan hangat ke para pengunjung Umah Pawonnya.

Setelah turis bule tersebut beranjak meninggalkan Umah Pawon, Nyoman kembali melanjutkan aktivitasnya membungkus ketan di dalam daun janur yang sudah dibentuk untuk direbus.

Nyoman saat membuat Jeja Bantal, makanan khas Bali yang akan dibawa untuk upacara adat Bali
Nyoman saat membuat Jeja Bantal, makanan khas Bali yang akan dibawa untuk upacara adat Bali

Dia menyebutnya ‘Bantal’ atau sering dikenal dengan sebutan ‘Jeja Bantal’, makanan yang disajikan untuk upacara adat Bali.

“Saya buatnya dari 1 Kg ketan putih, dicampur garam dan kelapa. Ini mau dibawa untuk upacara tradisi kami, jadi saya siapkan dari sekarang, mau direbus dulu. Besok setelah dibawa ke upacara adat, baru nanti dimakan bersama-sama,” ucapnya.

Sembari memasukkan ketan ke dalam wadah adonan janur, Nyoman bercerita jika Umah Pawon sudah menjadi tempat tinggalnya sejak masih kecil.

Karena dia adalah anak pertama, akhirnya dialah yang dipilih untuk meneruskan tinggal di Umah Pawon bersama suaminya.

Walau dia sudah membangun rumah modern di belakang Umah Pawon, namun Ketut Cedung dan Nyoman lebih merasa nyaman tidur di bilik sederhana Umah Pawon.

READ  Pemenang Bright Gas Cooking Competition 2025, Siap Kursus Masak di Le Cordon Bleu Thailand

Rumah yang berusia sekitar 200 tahun tersebut, merupakan peninggalan nenek moyangnya yang mempunyai banyak keunggulan dibandingkan rumah modern saat ini.

Nyoman menunjukkan tungku di dapur Umah Pawon yang selalu digunakan untuk memasak
Nyoman menunjukkan tungku di dapur Umah Pawon yang selalu digunakan untuk memasak

Saat musim panas, udara di Umah Pawon tidak panas. Begitu juga saat cuaca dingin dan musim hujan, udara di dalam Umah Pawon bisa memberikan kehangatan yang mungkin tidak didapatkan di rumah modern.

“Karena di dalam Umah Pawon, udaranya bergulir. Walau tidak menggunakan alat elektronik, tapi kami merasa hangat saat musim dingin dan sejuk saat musim panas. Nanti jika kami sudah tiada, Umah Pawon ini akan dihuni oleh anak sulung kami,” kata ibu dua anak tersebut.

Walaupun sudah berusia lebih dari 2 abad, namun tidak sulit untuk mengurus Umah Pawon. Mereka cukup mengganti dindingnya saja yang terbuat dari bambu dan sesekali mengganti atap yang sudah bocor.

Dia merasa, Umah Pawon menjadi salah satu identitas leluhurnya yang tidak mungkin bisa dia tinggalkan.

Sejak ditetapkan sebagai Desa Wisata tahun 1993 oleh Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bangli, mereka lebih mudah mengenalkan tradisi khas Bali baik ke turis Indonesia hingga tingkat mancanegara.

Pasutri tersebut juga tak segan untuk menceritakan seluk beluk sejarah bangunan yang mereka tinggali, agar tradisi leluhur mereka juga bisa dikenal luas.

READ  Pertamina Patra Niaga Regional Sumbagsel Kelola 294,89 Ton Sampah per Tahun, Dorong Ekonomi Sirkular Masyarakat

Dibukanya Desa Wisata juga menjadi ladang rezeki bagi Ketut Cedung dan Ketut Siplin serta warga Desa Panglipuran Bangli lainnya.

Selain memperkenalkan tradisi khas Bangli Bali, mereka juga bisa membuka usaha penyewaan baju, aksesoris khas Bali dan berjualan cemilan ke para turis yang datang.

Di Umah Pawon lainnya, Ketut Siplin (65) juga dengan ramah menyambut para turis yang mampir ke kediamannya. Dia pun tampak menawarkan penyewaan baju khas Bali ke salah satu turis lokal.

Ketut Siplin saat menjelaskan alat masak Dapur Pawon yang masih digunakannya
Ketut Siplin saat menjelaskan alat masak Dapur Pawon yang masih digunakannya

Walaupun tawarannya ditolak secara halus, namun senyum ramah masih tergurat di wajah Ketut Siplin.

“Kami menyewakan baju adat khas Bali dengan harga variatiif, mulai dari Rp50.000 untuk sekali pakai. Para turis bisa punya momen foto di desa kami, lengkap dengan baju adat,” ungkapnya

Tak hanya menunjukkan alat perabotan di Umah Pawonnya, dia juga menjelaskan manfaat Bale, bangunan terbuka yang biasanya digunakan untuk menyambut tamu, tempat istirahat, tempat berkumpul bersama kerabat atau keluarga dan lainnya.

Di tempatnya juga, dia juga menjual berbagai jenis aksesoris dan makanan, yang juga laris manis dibeli oleh para pengunjung.

Penyewaan pakaian adat Bali di Desa Penglipuran Bangli Bali
Penyewaan pakaian adat Bali di Desa Penglipuran Bangli Bali

Keramahan para warga lokal Desa Panglipuran membuat Winda, salah satu turis lokal dari Jakarta merasa nyaman berkeliling ke berbagai sudut rumah di desa adat tersebut.

Dengan membawa anaknya, Winda juga bisa mengetahui banyak tentang sejarah Desa Panglipuran Bangli Bali yang awalnya hanya dikenalnya melalui medsos.

“Saya awalnya mencari tahu di medsos, wisata apa yang harus dikunjungi saat liburan di Bali. Pas lihat foto-fotonya, jadi saya tertarik dan mau ke sini bareng keluarga,” ungkapnya.