Pengajian FORSAPSS Muara Enim, Merawat Silaturahmi dan Menjaga Hati

Muaraenim8 Dilihat

MUARA ENIM, SEPUTARSUMATERA.COM – Di siang yang teduh, Jumat (24/4/2026), halaman Masjid Agung Muara Enim dipenuhi langkah-langkah ringan para ibu.

Sebagian datang berkelompok, sebagian lagi menyapa satu sama lain dengan senyum yang lama tak bersua.

Di dalam masjid, suara salam bersahutan, hangat, seolah menghapus jarak yang mungkin sempat renggang oleh waktu.

Hari itu, FORSAPSS Kabupaten Muara Enim kembali menggelar pengajian rutin bulanan yang dirangkaikan dengan Halal Bihalal.

Bukan sekadar pertemuan biasa, melainkan ruang batin untuk saling menguatkan, antara iman, ilmu, dan amal.

Dari berbagai penjuru Muara Enim, jamaah hadir, yakni perwakilan majelis taklim, organisasi perempuan seperti TP PKK, Bunda Zakiah mewakili Pimpinan Daerah ‘Aisyiyah (PDA), Bunda Salimah dari Dharma Wanita Persatuan (DWP) Kabupaten Muara Enim Sumsel hingga FORSAPSS dari kecamatan-kecamatan terdekat.

Turut hadir tim FORSAPSS dari Kecaatan Tanjung Enim, Tanjung Agung, Ujanmas, Benakat, dan Gunung Megang, serta perwakilan Majelis taklim se-Kabupaten Muara Enim pun turut ambil bagian.

Mereka datang membawa satu tujuan yang sama, yakni mendekatkan diri kepada Allah, sekaligus merawat ukhuwah.

Ketua Umum FORSAPSS Misliyani mengingatkan bahwa pengajian bukan sekadar rutinitas.

“Di sinilah kita menata hati. FORSAPSS hadir untuk menguatkan iman, menambah ilmu, dan menumbuhkan amal dalam kehidupan sehari-hari,” ujarnya.

Suasana kemudian hening ketika tausiyah dimulai. Ustadz Imron Supriyadi berdiri di hadapan jamaah, menyapa dengan gaya sederhana, namun mengena.

Dia mengajak hadirin merenungkan kembali makna halal bihalal, tradisi khas Indonesia yang sarat nilai, tetapi perlahan diuji oleh zaman.

“Dulu, kita saling memaafkan dengan hati. Sekarang, sering kali selesai di salaman saja. Setelah itu, kita membuka ponsel, melihat status orang lain, lalu hati kembali terusik,” ungkapnya.

Di sinilah, menurutnya, ujian silaturahmi justru hadir. Bukan lagi di ruang pertemuan, tetapi di layar-layar kecil yang setiap hari digenggam.

Ustadz Imron menyebutnya sederhana, tetapi dalam menjaga jempol.

Jempol, kata dia, bisa menjadi jembatan silaturahmi, tetapi juga bisa menjadi sumber perpecahan.

Pesan yang diteruskan tanpa tabayyun, status yang ditulis dalam emosi, atau kata-kata yang melukai semuanya, bisa merusak apa yang telah dibangun dengan susah payah.

Namun tausiyah itu tidak berhenti pada kritik zaman. Ia bergerak lebih dalam, menyentuh akar kehidupan: keluarga. Apalagi perempuan, sebagaimana Hadis Rasul adalah tiang negara.

Dia menilai, perempuan menjadi tiang negara. Bila baik perempuan baik negara. Bila buruk perempuan maka rusaklah negara.

Peran perempuan sebagai ibu, mulai dari rumah tangga yang sederhana, masa depan bangsa dibentuk.

“Ibu-ibu adalah madrasah pertama bagi anak-anaknya. Dari sinilah lahir generasi yang baik atau sebaliknya,” ujar Imron , Alumnus Pondok Pesantren Modern Islam As-Salaam (PPMIA) Sukoharjo Jawa Tengah tersebut.

Dia mengingatkan, menjaga negara tidak selalu berarti hal besar. Ia bisa dimulai dari hal yang paling dekat. Mulai dari menjaga suami dalam kebaikan, mendidik anak dengan akhlak, serta memastikan teknologi hadir sebagai manfaat, bukan mudarat.

Di sudut-sudut masjid, beberapa jamaah tampak mengangguk pelan. Barangkali mereka sedang mengingat anak-anak di rumah, atau pesan-pesan yang sering kali datang tanpa sempat disaring.

Menjelang akhir tausiyah, suasana kembali menghangat. Pesan yang disampaikan sederhana, tetapi menyentuh inti, yakni silaturahmi adalah cermin iman.

“Kalau masih ada benci, dendam, atau sakit hati, itu tanda iman kita sedang menurun. Maka bersihkan hati, sebagaimana kita membersihkan debu di kaca,” katanya.