Perkuat Ketahanan Pangan dan Ekonomi Desa, Pertamina Gelar Panen Raya Nangka di Hutan Wanaboga Gunungkidul

Berita24 Dilihat

DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA, SEPUTARSUMATERA.COM – Pertamina melalui Pertamina Foundation sebagai pelaksana program, bersama Universitas Gadjah Mada (UGM) dan Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan (DLHK) DIY, memperkuat ketahanan pangan.

Sekaligus ekonomi masyarakat desa melalui program Hutan Lestari Wanaboga Nangka di kawasan Petak 58 RPH Candi, BDH Karangmojo, Kalurahan Jatiayu, Kapanewon Karangmojo, Kabupaten Gunungkidul.

Program tersebut ditandai dengan panen raya dan penanaman lanjutan pohon nangka pada Sabtu (3/10/2026).

Pengembangan kawasan hutan seluas 87 hektare tersebut diarahkan untuk mendukung pemenuhan kebutuhan bahan baku nangka muda atau gori bagi industri kuliner gudeg Yogyakarta, sekaligus membangun ketahanan pangan berbasis lingkungan dan pemberdayaan masyarakat.

Kebutuhan nangka muda untuk industri kuliner gudeg di Yogyakarta saat ini diperkirakan mencapai sekitar sembilan ton per hari, sementara produksi lokal dari wilayah DIY baru mampu memenuhi sekitar dua ton per hari.

Dengan demikian, masih terdapat defisit sekitar tujuh ton yang selama ini harus dipenuhi dari luar daerah.

Optimalisasi kawasan hutan di Gunungkidul diharapkan dapat menjadi salah satu langkah strategis, untuk memperkuat ketersediaan bahan baku secara mandiri sekaligus memberikan nilai ekonomi bagi masyarakat sekitar.

Komisaris PT Pertamina (Persero), Nanik S. Deyang mengatakan, keterlibatan Pertamina melalui program yang dilaksanakan Pertamina Foundation merupakan bentuk kepedulian dunia usaha dalam mendukung ketahanan pangan nasional, di samping menjaga ketahanan energi.

READ  Pertamina Patra Niaga Regional Sumbagsel Dukung UMKM Binaan Tampil di Airport Local Pride Festival

“Yogyakarta ini identik dengan gudeg, namun selama ini belum memiliki sumber bahan baku mandiri sehingga harus mendatangkan dari luar daerah. Pemanfaatan lahan di Gunungkidul ini adalah bagian nyata dari program ketahanan pangan,” ujar Nanik di sela-sela kegiatan panen dan penanaman pohon nangka bersama warga.

Pengembangan kawasan hutan pangan tersebut mendapat dukungan Pemerintah Daerah DIY, serta arahan Gubernur DIY Sri Sultan Hamengku Buwono X, dalam pemanfaatan kawasan hutan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

Pengelolaannya melibatkan Kelompok Tani Hutan Lestari Wanaboga Nangka yang beranggotakan sekitar 400 petani lokal.

Perwakilan Kelompok Tani Hutan Lestari Wanaboga Nangka, Ngatimin, mengapresiasi dukungan berkelanjutan yang diberikan melalui program tersebut.

Menurutnya, kelompok tani telah melakukan sedikitnya tiga kali panen dan berharap pendampingan peningkatan kapasitas sumber daya manusia terus berlanjut agar hasil kebun dapat dikembangkan menjadi berbagai produk turunan bernilai tambah.

Corporate Secretary PT Pertamina (Persero), Arya Dwi Paramita menuturkan, komitmen Pertamina dalam menjalankan Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) yang memberikan dampak nyata dan berkelanjutan bagi masyarakat.

READ  Dirut Pertamina Patra Niaga Pastikan Layanan SPBU di Palembang Berjalan Optimal

Dia berkata, Pertamina berkomitmen untuk memastikan setiap program TJSL yang digulirkan tidak hanya bersifat karitatif atau momentum sesaat, tetapi memiliki dampak yang terukur, berjangka panjang, dan berkelanjutan.

Melalui kolaborasi Hutan Lestari Wanaboga Nangka ini, kami ingin memastikan adanya transparansi dampak sosial-ekonomi yang tercipta.

“Mulai dari kedaulatan pangan, kemandirian ekonomi petani, hingga pelestarian ekosistem lingkungan secara konsisten,” ungkap Arya.

Untuk memperkuat keberlanjutan pertanian di lahan karst Gunungkidul yang cenderung kering pada musim kemarau, program ini dikembangkan melalui sistem tumpangsari serta dukungan pengairan berbasis energi bersih.

Dalam jangka panjang, kawasan ini tidak hanya diarahkan menjadi lumbung pangan dan sumber bahan baku kuliner, tetapi juga dikembangkan menuju kawasan eduwisata.

President Director Pertamina Foundation, Agus Mashud S. Asngari, mengatakan, keberhasilan pengelolaan hutan tidak cukup diukur dari kegiatan seremonial, tetapi dari keberlanjutan dampak yang dihasilkan bagi masyarakat dan lingkungan.

“Ukuran keberhasilan kita adalah seberapa besar dampak yang tersisa lima hingga sepuluh tahun mendatang. Melalui Wanaboga Nangka, kita membuktikan bahwa ketika pemerintah, akademisi, masyarakat, dan dunia usaha bergandengan tangan, hutan tidak hanya lestari, tetapi juga memberi pangan, menjaga iklim, dan menyejahterakan desa,” ungkap Agus.

READ  Pertamina Patra Niaga Regional Sumbagut Tambah 3,2 Juta Tabung, Perkuat Pasokan LPG Jelang Idulfitri 2026

Direktur Penunjang Bisnis PT Pertamina (Persero) M. Erry Sugiharto berkata, hilirisasi produk pangan berbasis potensi lokal menjadi salah satu kunci dalam memperkuat ekonomi desa.

“Hilirisasi tidak hanya milik sektor pertambangan, tetapi bisa kita mulai dari sebatang pohon nangka untuk mendukung swasembada pangan serta harmoni lingkungan,” kata Erry.

Sebagai bagian dari penguatan dukungan bagi petani dan masyarakat sekitar, Pertamina Foundation menyerahkan dua unit kendaraan angkut roda tiga untuk mendukung mobilitas hasil panen kelompok tani.

Selain itu, diserahkan pula 20 paket bantuan pendidikan SESAMA yang berisi tas dan alat tulis sekolah bagi anak-anak di sekitar kawasan hutan.

Rangkaian kegiatan ditutup dengan tradisi Kembul Bujono, yakni makan bersama dengan menikmati olahan nangka yang dibuat oleh masyarakat lokal.

Serta alunan musik tradisional Rinding Gumbeng khas Gunungkidul sebagai ungkapan syukur atas keberhasilan panen.

Melalui kolaborasi Pertamina, Pertamina Foundation, pemerintah daerah, UGM, dan masyarakat tani, Hutan Wanaboga Nangka diharapkan terus berkembang sebagai model pengelolaan hutan pangan di lahan kering.

Yang mana, mampu memperkuat ketahanan pangan, meningkatkan kemandirian ekonomi masyarakat, sekaligus menjaga keberlanjutan lingkungan.