Pertamina Patra Niaga Ajak Media Melihat Langsung Pengembangan Sustainable Aviation Fuel

Berita33 Dilihat

CILACAP, SEPUTARSUMATERA.COM – Pertamina Patra Niaga dengan produk Sustainable Aviation Fuel (SAF) hadir sebagai salah satu alternatif penting pemanfaatan bahan baku Used Cooking Oil (UCO) atau minyak jelantah.

Produksi dan Pengembangan SAF dilakukan salah satunya di Kilang Cilacap, Jawa Tengah.

Fasilitas tersebut menjadi bagian penting dalam ekosistem energi Pertamina sekaligus lokasi produksi SAF, yang memanfaatkan UCO sebagai salah satu bahan bakunya.

READ  Pertamina Patra Niaga Regional Sumbagsel Edukasi Keselamatan Penggunaan LPG bagi Warga Ring-1 di IT Pangkal Balam

VP Corporate Communication Pertamina Patra Niaga mengatakan SAF menjadi salah satu topik pembicaraan pada agenda Pertamax Journey 2026, yang mempertemukan jurnalis dari berbagai wilayah operasional Pertamina Patra Niaga.

“Kilang Cilacap menjadi salah satu fasilitas strategis dalam ekosistem energi Pertamina. Dengan kapasitas pengolahan mencapai 348 ribu barel per hari, kilang ini memiliki peran penting dalam mendukung ketahanan energi nasional,” ucap Kitty.

READ  Pertamina Imbau Warga Sekitar Kilang Plaju-Sungai Gerong Jaga Kondusifitas di Momen Nataru 2025

Selain itu, Kilang yang diproyeksikan menjadi proyek green refinery pertama di Indonesia, difokuskan untuk memproduksi bahan bakar ramah lingkungan skala besar untuk memperkuat kemandirian Energi Hijau dan SAF Nasional.

Pemanfaatan UCO dalam pengembangan SAF juga membuka peluang pemanfaatan sumber daya yang sebelumnya merupakan limbah menjadi bagian dari rantai nilai energi.

Hal tersebut sejalan dengan upaya mendorong penerapan prinsip ekonomi sirkular, sekaligus menghadirkan alternatif bahan bakar penerbangan yang lebih berkelanjutan.

READ  Pertamina Patra Niaga Dampingi Warga Kampung Tua Terih Kembangkan Usaha Hasil Laut

Menurut Kitty, pengembangan SAF merupakan bagian dari perjalanan Pertamina Patra Niaga dalam menghadirkan produk dan layanan energi yang relevan dengan perkembangan industri.

Termasuk kebutuhan sektor penerbangan terhadap bahan bakar yang lebih berkelanjutan.

“Bagi kami, keberlanjutan dan ketahanan energi bukan dua hal yang berjalan sendiri-sendiri. Keduanya perlu dibangun secara bersamaan,” katanya.