BANYUASIN, SEPUTARSUMATERA.COM – Lubang-lubang kecil terlihat jelas di lahan konservasi mangrove yang basah. Ada banyak kepiting-kepiting kecil yang muncul malu-malu dan langsung bergerak masuk ke dalam lubang untuk bersembunyi, saat saya bergerak mendekat untuk melihat aktivitas hewan yang masuk kelas Malacostraca tersebut.
Lahan tersebut kini menjadi tempat hidup habitat kepiting-kepiting bakau, yang kini ditanami berbagai tanaman mangrove, hasil kolaborasi dari Medco E&P Indonesia bersama Lembaga Pengelola Hutan Desa (LPHD) Sungsang IV sejak 2024.
Ketua Lembaga Pengelola Hutan Desa (LPHD) Sungsang 4 Banyuasin Abdullah menceritakan,, bagaimana dulunya puluhan hektare lahan kosong di bagian pesisir Desa Sungsang IV Kabupaten Banyuasin Sumatera Selatan (Sumsel) sempat menjadi lahan konflik, karena beberapa oknum warga berusaha mengklaim kepemilikan untuk ditanam sawit.
“Dulu sempat ada pihak luar yang sempat klaim lahan ini sebagai kepemilikannya, mau dijadikan lahan sawit dan dijualbelikan oleh oknum tersebut. Tapi kami berhasil berjuang bersama, untuk menyelamatkan lahan ini. Hingga akhirnya ada ajakan restorasi hutan terbuka, untuk mendukung emisi karbon ke depan,” ujarnya kepada Seputarsumatera.com beberapa waktu lalu, saat ditulis Jumat (14/11/2025).
Dari pengelolaan lahan mangrove tersebut, Abdullah merasa senang, karena bisa kembali melihat banyaknya habitat kepiting bakau, ikan tirusan dan udang yang sempat hilang karena banyaknya pemanfaatan lahan menjadi kebun sawit. Dia berkata, lahan yang siap direstorasi sekitar 65 hektare. Di mana, yang ditanami sekitar 7 hektare dari perusahaan dan 14 hektare direstorasi.

Di awal penanaman, mereka pernah merasakan gagal tanam, karena hampir 90 persen tanaman mati total. Hal tersebut terjadi karena kendala hama yang tidak bisa diprediksi. Namun lambat laun, tim LPHD Sungsang IV Banyuasin mengamati dan belajar lebih banyak tentang penanaman mangrove, hingga akhirnya banyak tanaman yang hidup.
Untuk bibit mangrove sendiri berasal dari bibit lokal dari Sungsang IV Banyuasin, yang akhirnya tumbuh secara alami. Namun tim LPHD Sungsang IV tetap mengawasi, seperti gangguan hama atau sampah yang tersapu dari aliran sungai.
“Saat ini sudah empat kanal yang dibuat, dengan panjang sekitar 500 meter hingga 1.000 meter. Untuk penanaman bibit, memang ada prosedurnya. Seperti penanaman pertama harus lebih intens dan tetap dijaga. Kita juga melihat waktu air pasang. Seperti di bulan Maret hingga awal September, air pasang dari sore hingga malam. Di bulan September-November air pasang di tengah hari, lalu dari November ke Febuari air pasangnya siang hari,” ungkapnya.
Dia juga bersyukur dengan pengelolaan mangrove tersebut, bisa juga memberikan banyak manfaat bagi warga sekitar. Para warga kini mendapatkan pekerjaan dan aktivitas yang lebih positif, mengetahun banyak pengetahuan tentang mangrove dan ikut berkontribusi menjaga alam.
FOLU Net Sink 2030

Direktur Yayasan Depati sekaligus aktivis lingkungan Ali Goik mengapresiasi perusahaan yang peduli akan perlindungan lingkungan yang berdampak besar pada masyarakat, seperti konservasi mangrove di Sungsang IV Banyuasin.
Dia berkata, langkah konservasi mangrove tersebut merupakan pengayaan yang bagus, karena tanaman mangrove menjadi benteng ombak biar tidak masuk airnya dan menghindari abrasi. Sekaligus sebagai habitat tumbuh dan hidup lagi, seperti kepiting bakau.
“Lahan-lahan kosong harus ditanam. Kalau tidak, lahan akan habis dan abrasi. Harus ditanam, untuk jadi benteng ombak. Kalau tanamannya rapat, semisal ada tsunami, bisa menjadi penangkal. Itulah gunanya mangrove di pinggir pantai atau pesisir,” ungkapnya kepada awak Seputarsumatera.com.
Bahkan jika semakin banyak menanam tanaman mangrove di sepanjang lahan, akan semakin membuat kehidupan ekosistem sekitar semakin hidup.
Program ini, lanjutnya, selaras dengan target Indonesia’s Forestry and Other Land Uses (FOLU) Net Sink 2030. Di mana, dalam sektor kehutanan dan penggunaan lahan untuk menyerap lebih banyak emisi gas rumah kaca daripada yang dikeluarkannya, sehingga ini jadi suatu penyerap bersih karbon.
“Memang untuk mencapai Indonesia’s FOLU Net Sink 2030 ini harus melakukan berbagai upaya mitigasi emisi, seperti konservasi mangrove ini,” katanya.
Menurutnya, kegiatan tersebut menjadi contoh yang juga harus dilaksanakan oleh perusahaan lainnya. Menjalani program penanaman mangrove juga, bisa melibatkan masyarakat sekitar. Mulai dari pembibitan, penanaman dan pengelolaan tanaman, sehingga ekonomi masyarakat bisa jalan. Jika pengelolaan lahan mangrove besar, masyarakat bisa ambil kepiting, udang petak dan biota sungai lainnya.
“Apalagi di Sungsang, ada spesies udang lumpur yakni udang petak, yang harganya lebih mahal dari lobster dan tumbuh hidupnya di situ. Pasti ada juga biota lainnya seperti ikan yang bisa dipancing warga, jadi bisa mewujudkan ketahanan pangan warga sekitar,” ucapnya.
Pelestarian Ekosistem Lokal

KKKS Medco E&P Indonesia dan Medco E&P Grissik Ltd (Medco E&P) menegaskan komitmen lingkungan mereka, melalui Program Pengembangan Masyarakat (PPM) Bidang Lingkungan dengan menanam mangrove di Kabupaten Banyuasin Sumsel.
Kolaborasi tersebut melibatkan SKK Migas dan Pertamina Hulu Energi Jambi Merang, bertujuan untuk pelestarian ekosistem lokal. Melalui Lembaga Desa Pengelola Hutan Desa (LDPHD), Medco E&P dan mitra-mitranya melaksanakan penanaman mangrove di Hutan Desa Sungsang IV, Kabupaten Banyuasin.
Manager Field Relation & Community Enhancement Medco E&P Indonesia, Hirmawan Eko Prabowo berkata, kegiatan tersebut menjadi bagian dari komitmen perusahaan untuk merehabilitasi lingkungan, mitigasi perubahan iklim, serta memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat sekitar melalui ekowisata dan pengembangan produk turunan mangrove.
“Dengan program pengembangan masyarakat di bidang lingkungan yang dilakukan di luar kewajiban PPKH, telah dilakukan penanaman sebanyak 33,000 pohon Mangrove oleh Medco E&P Indonesia sejak tahun 2024,” ujarnya.
Kerja sama Medco E&P Indonesia dengan LPHD Sungsang IV,menjadi bentuk upaya konservasi dan penanaman hutan mangrove. Kegiatan tersebut, ;anjutnya, menjadi bagian dari komitmen perusahaan terhadap lingkungan untuk menanam ribuan pohon mangrove, menciptakan ekosistem berbasis karbon biru, serta mendukung pariwisata dan mata pencaharian warga di Desa Sungsang IV Kabupaten Banyuasin.
Medco E&P Indonesia dan Medco E&P Grissik Ltd. berencana menanam 30.000 batang mangrove, sementara Pertamina Hulu Energi Jambi Merang menanam 1.000 batang mangrove di wilayah Sungsang. Tahun 2024, Program ini mendapat dukungan dari Dinas Kehutanan (Dishut) Sumsel, pejabat dan tokoh masyarakat setempat.
Senior Manager Communication Medco E&P Leony Lervyn berujar, perusahaan berkomitmen untuk memberikan dampak positif bagi lingkungan, terutama di sekitar wilayah operasi.
“Terima kasih atas dukungan semua pihak, sehingga perusahaan dapat terus memenuhi kebutuhan energi nasional dengan aman dan lancar,” ujarnya.
Safei dari SKK Migas berkata, kegiatan tersebut merupakan bagian dari program pengembangan masyarakat di bidang lingkungan, yang dilakukan di luar kewajiban PPKH.

“Kami tidak hanya mencari minyak dan gas bumi, tetapi juga berkomitmen untuk menjaga lingkungan, termasuk penanaman mangrove ini,” jelasnya.
Pada awal dilakukan kerjasama tahun 2024, Kepala Dishut Sumsel Koimudin bengapresiasi upaya SKK Migas – KKKS Sumsel. Dia menyebut penanaman mangrove tersebut sebagai contoh positif bagi pemegang kewajiban PPKH lainnya.
“Penanaman pohon mangrove ini juga menjadi komitmen dari Kepala Desa untuk melakukan pengawasan di kawasannya yang ditanami,” ujarnya. ***
Penulis : Nefri Inge (Wartawan Seputarsumatera.com)







