PT BPP Andalkan Injeksi Air, Perkuat Pencegahan Karhutla di Banyuasin

Berita140 Dilihat

PALEMBANG, SEPUTARSUMATERA.COM – Ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) pada musim kemarau membuat pengelolaan air di kawasan gambut menjadi semakin penting.

Di Banyuasin Sumatera Selatan (Sumsel), PT Bumi Persada Permai (PT BPP) menerapkan sistem injeksi air untuk menjaga ketersediaan air di sejumlah kawasan yang membutuhkan tambahan pasokan.

Sistem tersebut bekerja dengan memindahkan air dari lokasi yang memiliki cadangan menuju kawasan yang mulai mengalami kekurangan air.

Sumber air dapat berasal dari sungai, embung maupun sumber lain yang tersedia, kemudian dialirkan menggunakan pompa melalui jaringan yang ada di lapangan.

Pengelolaan air menjadi salah satu bagian penting dalam pencegahan karhutla di lahan gambut. Ketika memasuki periode kering, berkurangnya kandungan air dapat membuat gambut lebih rentan terbakar, termasuk memicu penjalaran api hingga ke lapisan bawah permukaan.

Expert Water Management PT BPP, Bowo Suratmanto, mengatakan menjaga kelembaban gambut menjadi salah satu langkah penting untuk. mengurangi risiko tersebut.

READ  Pertamina Patra Niaga Perkuat Komitmen Keanekaragaman Hayati melalui Program Ibu Kota Penyu

“Menjaga gambut tetap dalam kondisi lembab merupakan salah satu kunci dalam menekan risiko kebakaran. Selain mempertahankan tinggi muka air melalui infrastruktur tata air, diperlukan langkah tambahan ketika ketersediaan air mulai menurun,” ujar Bowo, Kamis (17/9/2026).

Menurut dia, sistem injeksi memungkinkan air dipindahkan secara bertahap dari satu zona ke zona lainnya. Air tersebut antara lain dimanfaatkan untuk menjaga cadangan pada kanal dan embung agar tetap tersedia ketika kondisi lapangan mulai mengering.

“Prinsipnya bukan hanya menambah volume air, tetapi memastikan air tersedia di lokasi yang membutuhkan dan pada saat yang tepat. Ketersediaan air sangat menentukan efektivitas upaya pencegahan maupun penanganan karhutla,” katanya.

Penerapan sistem injeksi air tersebut menjadi bagian dari strategi penanggulangan karhutla PT BPP yang bertumpu pada empat pilar.

Yakni persiapan (preparation), pencegahan (prevention), deteksi dini (early detection), dan respons cepat (rapid response).

READ  Ada Kids Corner di Serambi MyPertamina, Lengkapi Perjalanan Seru Keluarga di Nataru 2025

Pengelolaan tata air menjadi bagian dari upaya pencegahan, sekaligus mendukung kesiapan ketika respons lapangan dibutuhkan.

Selain sistem injeksi, pengelolaan air dilakukan melalui sekat kanal untuk membantu menahan dan mengatur pergerakan air di kawasan gambut.

Pada lokasi tertentu, sistem tersebut disesuaikan dengan karakteristik hidrologi setempat, termasuk kawasan yang dipengaruhi pasang surut.

Meski demikian, ketersediaan air tetap dapat berkurang pada musim kemarau akibat evaporasi dan transpirasi.

Untuk memindahkan air dalam jumlah besar, PT BPP menggunakan beberapa jenis pompa sesuai kebutuhan lapangan. Pompa sentrifugal memiliki kapasitas sekitar 18.000 liter per menit.

Sementara pompa axial mampu memindahkan sekitar 12.000 liter per menit dan digunakan, antara lain untuk mendukung pemindahan air antarsekat kanal.

“PT BPP juga mengembangkan pompa bazooka berkapasitas sekitar 2.400 liter per menit untuk kebutuhan pembasahan pada kondisi tertentu,” ujarnya.

READ  Hari Lahir Pancasila 2025, Ini Harapan PDI Perjuangan Sumsel di Peringatan Bulan Bung Karno

Pemilihan pompa disesuaikan dengan lokasi sumber air, kondisi medan, jarak distribusi, serta volume air yang dibutuhkan.

Sistem injeksi juga dapat dikombinasikan dengan embung atau water trap agar air yang telah dipindahkan dapat ditahan dan dimanfaatkan lebih lama.

Ketersediaan air tersebut menjadi penting ketika terjadi kebakaran. Kanal dan embung yang masih memiliki cadangan air.

Yang bisa digunakan untuk mendukung pembasahan maupun operasi pemadaman di sekitar lokasi kejadian, sehingga sumber air dapat dijangkau lebih cepat oleh tim di lapangan.

Pengelolaan air tidak hanya berkaitan dengan pencegahan karhutla. Kondisi tata air juga berpengaruh terhadap kelembaban gambut, produktivitas tanaman, mobilitas operasional, hingga risiko penurunan permukaan gambut atau peat subsidence.

“Prinsipnya adalah bagaimana air yang tersedia dapat dikelola, dipindahkan, disimpan, dan dimanfaatkan sesuai kebutuhan sebagai bagian dari sistem pengelolaan kawasan secara menyeluruh,” ucapnya.