Tertarik Adopsi Sambonesia, BNPB Apresiasi Penanganan Karhutla APP Group di OKI Sumsel

Berita, OKI11 Dilihat

PALEMBANG, SEPUTARSUMATERA.COM – Ketua Harian Unsur Pengarah Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Brigjen Pol (Purn) Ary Laksmana Widjaja mengapresiasi kolaborasi penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla), di Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI), Sumatera Selatan (Sumsel).

Hal tersebut juga termasuk upaya pencegahan dan pemadaman yang dilakukan APP Group bersama pemerintah daerah, TNI/Polri, Manggala Agni serta masyarakat di Kabupaten OKI Sumsel.

Ary sebelumnya meninjau langsung sejumlah wilayah rawan karhutla di Kabupaten OKI pada 29 Agustus 2026.

Kunjungan tersebut dilakukan untuk melihat kondisi lapangan sekaligus berbagai upaya pencegahan, deteksi dini dan penanganan kebakaran yang dilakukan para pemangku kepentingan.

Menurutnya pengalaman penanganan karhutla sepanjang 2026 perlu menjadi pembelajaran penting dalam memperkuat kesiapsiagaan menghadapi potensi risiko karhutla pada tahun-tahun berikutnya.

Sistem pembasahan lahan gambut, air diambil dari kanal atau sumber air lainnya, kemudian dipompakan ke dalam lahan gambut yg telah digali menggunakan excavator dibuat menjadi embung, sehingga air masuk ke gambut. Yang berfungsi mencegah perambatan api dalam lahan gambut (cegah kebakaran) serta pendinginan atau mematikan api dalam lahan gambut setelah kebakaran (Dok. Humas BNPB / Seputarsumatera.com)
Sistem pembasahan lahan gambut, air diambil dari kanal atau sumber air lainnya, kemudian dipompakan ke dalam lahan gambut yg telah digali menggunakan excavator dibuat menjadi embung, sehingga air masuk ke gambut. Yang berfungsi mencegah perambatan api dalam lahan gambut (cegah kebakaran) serta pendinginan atau mematikan api dalam lahan gambut setelah kebakaran (Dok. Humas BNPB / Seputarsumatera.com)

“Sekarang saatnya kita belajar untuk mitigasi kebencanaan, terutama karhutla. Pertarungannya ada di tahun 2027 saat El Nino tiba, jadi persiapannya harus dilakukan dari sekarang. Bagaimana mencegah dan memadamkan api, apalagi kita sudah mendapatkan komplain dari mancanegara,” ujarnya, Selasa (8/9/2026) lalu.

READ  Pertamina Patra Niaga Infrastructure Downstream Experience 2026 Sukses Digelar

Ada enam provinsi yang menjadi perhatian dalam upaya pengendalian karhutla, yakni Sumsel, Jambi, Riau, Kalimantan Tengah (Kalteng), Kalimantan Selatan (Kalsel) dan Kalimantan Barat (Kalbar).

Penanggulangan bencana tidak hanya berfokus pada respons saat kebakaran terjadi, tetapi mencakup pencegahan dan deteksi dini, tanggap darurat, hingga penanganan pascabencana.

“Karena itu, diperlukan sinergi unsur Pentahelix yang melibatkan pemerintah pusat dan daerah, termasuk TNI/Polri, masyarakat, akademisi, dunia usaha, serta media massa,” katanya.

Apresiasi Kolaborasi di OKI

Sistem pembasahan lahan gambut, air diambil dari kanal atau sumber air lainnya, kemudian dipompakan ke dalam lahan gambut yg telah digali menggunakan excavator dibuat menjadi embung, sehingga air masuk ke gambut. Yang berfungsi mencegah perambatan api dalam lahan gambut (cegah kebakaran) serta pendinginan atau mematikan api dalam lahan gambut setelah kebakaran (Dok. Humas BNPB / Seputarsumatera.com)
Sistem pembasahan lahan gambut, air diambil dari kanal atau sumber air lainnya, kemudian dipompakan ke dalam lahan gambut yg telah digali menggunakan excavator dibuat menjadi embung, sehingga air masuk ke gambut. Yang berfungsi mencegah perambatan api dalam lahan gambut (cegah kebakaran) serta pendinginan atau mematikan api dalam lahan gambut setelah kebakaran (Dok. Humas BNPB / Seputarsumatera.com)

Ary menilai keterlibatan dunia usaha memiliki peran penting dalam mendukung upaya pencegahan dan penanggulangan karhutla.

Selain menjaga area konsesi, perusahaan menurutnya juga perlu mengantisipasi kebakaran yang terjadi di wilayah sekitar agar tidak meluas.

Dalam kunjungannya di Kabupaten OKI, Ary melihat kolaborasi antara pemerintah daerah, TNI/Polri, Manggala Agni, masyarakat, serta APP Group berjalan dengan baik, terutama di sejumlah wilayah seperti Cengal, Tulung Selapan, Pangkalan Lampam, dan Air Sugihan.

READ  Dewan Komisaris Pertamina Patra Niaga Tinjau Distribusi Energi dan Program Pemberdayaan Masyarakat di Kepri

“Alhamdulillah, di lapangan saya melihat komponen Pentahelix sudah ada. Perusahaan menunjukkan effort untuk ikut membantu melakukan pencegahan dan pemadaman,” ungkapnya.

Bahkan di Air Sugihan, lanjut Ary, terdapat fire base, pusat pendidikan dan pelatihan mitigasi dan pemadaman kebakaran, serta peralatan pemadaman yang tentu membutuhkan investasi besar.

Helikopter water bombing yang digunakan untuk membantu penanganan kebakaran, tidak hanya di dalam tetapi juga di sekitar wilayah konsesi di Kabupaten OKI Sumsel (Dok. Humas BNPB / Seputarsumatera.com)
Helikopter water bombing yang digunakan untuk membantu penanganan kebakaran, tidak hanya di dalam tetapi juga di sekitar wilayah konsesi di Kabupaten OKI Sumsel (Dok. Humas BNPB / Seputarsumatera.com)

Dia juga menyoroti dukungan sarana penanggulangan karhutla yang tersedia, termasuk helikopter water bombing, yang dapat digunakan untuk membantu penanganan kebakaran, tidak hanya di dalam tetapi juga di sekitar wilayah konsesi.

Ary Laksmana Widjaja juga mengapresiasi keberadaan Command Center, yang digunakan untuk memantau titik panas secara real time. Informasi tersebut membantu mempercepat koordinasi dan pengerahan Regu Pemadam Kebakaran (RPK) maupun Masyarakat Peduli Api (MPA) ke lokasi yang membutuhkan penanganan.

Serta meninjau lokasi kebakaran di luar konsesi salah satu mitra pemasok APP Group, PT Bumi Mekar Hijau (BMH), di wilayah Cengal.

Command Center APP Group yang digunakan untuk memantau titik panas secara real time. Informasi tersebut membantu mempercepat koordinasi dan pengerahan MPA dan RPK (Dok. Humas BNPB/ Seputarsumatera.com)
Command Center APP Group yang digunakan untuk memantau titik panas secara real time. Informasi tersebut membantu mempercepat koordinasi dan pengerahan MPA dan RPK (Dok. Humas BNPB/ Seputarsumatera.com)

“Di Kabupaten OKI, saya tidak melihat adanya upaya APP melakukan pembakaran hutan, namun sebaliknya saya menemukan adanya keseriusan APP Group dalam ikut menanggulangi permasalahan karhutla,” ujarnya.

READ  Puluhan Pelajar SD Belajar Perikanan Berkelanjutan di Belida Field Trip Pertamina di Sungai Gerong

Dia menilai, perusahaan akan menderita kerugian yang cukup besar, jika terjadi kebakaran lahan di wilayah konsesinya. Dan juga ada kekhawatiran jika terjadi kebakaran di lahan luar, yang berbatasan dengan wilayah konsesi.

Karena menurutnya, kondisi tersebut bisa menjadi asal api yang membakar tanaman industri yang ada di konsesi, seperti yang diduga selama ini.

Sambonesia Berpeluang Diadopsi

Sambonesia, alat yang diciptakan APP Group berguna untuk penanganan kebakaran di lahan gambut. Di bagian atas ada semprotan air sedangkan bagian bawahnya menusuk ke dalam tanah gambut untuk injeksi air guna pembasahan serta mematikan api yg ada di gambut (Dok. Humas BNPB/ Seputarsumatera.com)
Sambonesia, alat yang diciptakan APP Group berguna untuk penanganan kebakaran di lahan gambut. Di bagian atas ada semprotan air sedangkan bagian bawahnya menusuk ke dalam tanah gambut untuk injeksi air guna pembasahan serta mematikan api yg ada di gambut (Dok. Humas BNPB/ Seputarsumatera.com)

Dalam kunjungan tersebut, Ary juga melihat penggunaan Sambonesia, perangkat penanganan kebakaran lahan gambut yang dikembangkan oleh tim penanggulangan kebakaran APP Group.

Perangkat tersebut dirancang untuk membantu proses pembasahan lapisan gambut melalui injeksi air ke bawah permukaan tanah.

Sistem tersebut memungkinkan air menjangkau bagian gambut, yang berpotensi masih menyimpan panas meskipun api di permukaan telah padam.

Ary melihat teknologi tersebut berpotensi dikembangkan dan diterapkan di wilayah lain.

Sambonesia, alat yang diciptakan APP Group berguna untuk penanganan kebakaran di lahan gambut. Di bagian atas ada semprotan air sedangkan bagian bawahnya menusuk ke dalam tanah gambut untuk injeksi air guna pembasahan serta mematikan api yg ada di gambut (Dok. Humas BNPB/ Seputarsumatera.com)
Sambonesia, alat yang diciptakan APP Group berguna untuk penanganan kebakaran di lahan gambut. Di bagian atas ada semprotan air sedangkan bagian bawahnya menusuk ke dalam tanah gambut untuk injeksi air guna pembasahan serta mematikan api yg ada di gambut (Dok. Humas BNPB/ Seputarsumatera.com)

“Penanganan menggunakan Sambonesia sudah sangat bagus. Kita coba adopsi untuk diterapkan di tempat lain. Sambonesia bagus untuk lahan terbakar karena selain menyemprotkan air ke permukaan, terdapat injeksi yang masuk ke gambut sehingga lapisan bawahnya ikut dibasahi,” ujarnya.

Teknologi pembasahan gambut juga, dapat dimanfaatkan sebagai bagian dari langkah pencegahan. Pada wilayah rawan kebakaran, pembasahan dapat membantu menjaga kelembapan gambut sehingga lebih tahan terhadap risiko penjalaran api, terutama saat musim kemarau.

Lalu ada penggunaan pompa sentrifugal, yang berfungsi menghisap dan mendorong air bertekanan dari sumber air menuju area penanganan.

Pada kondisi tertentu, ketika ditemukan bara atau gambut terbakar di bawah permukaan, area tersebut dapat dibasahi secara intensif atau dibuat tampungan air sementara sehingga air dapat meresap hingga ke lapisan gambut.

Kondisi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kabupaten OKI Sumsel (Dok. Humas BNPB / Seputarsumatera.com)
Kondisi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kabupaten OKI Sumsel (Dok. Humas BNPB / Seputarsumatera.com)

“Ketika lahan dibuka dan ditemukan gambut yang masih terbakar di bawah permukaan, area itu bisa langsung diisi air. Pembasahan seperti ini sangat penting dalam pencegahan dan penanganan karhutla di lahan gambut,” katanya.

Dari hasil pemantauan per 8 September 2026, masih terdapat sejumlah titik api di Kabupaten OKI yang tersebar antara lain di Pangkalan Lampam, Tulung Selapan, dan Air Sugihan.

Sementara itu, menurut pemantauan yang disampaikannya, pada saat tersebut tidak lagi terdeteksi fire spot di wilayah Cengal.

Upaya pengendalian karhutla di Sumatera Selatan diharapkan terus diperkuat melalui koordinasi lintas pihak, peningkatan kapasitas personel, pemanfaatan teknologi, serta kesiapsiagaan sarana dan prasarana untuk mencegah kebakaran berkembang menjadi lebih luas.