Prihatin Atas KDRT Balita Hingga Wafat, Menteri PPPA Soroti Hukuman ke Pelaku yang Belum Maksimal

Daerah, Kriminal, Nasional1383 Dilihat

JAKARTA, SEPUTARSUMATERA.COM – Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) Arifah Fauzi menyampaikan keprihatinan mendalam atas kasus kekerasan terhadap seorang balita, yang mengakibatkan meninggal dunia di Medan Sumatera Utara (Sumut).

Peristiwa tersebut menjadi pengingat pentingnya penguatan perlindungan anak melalui penanganan hukum yang berperspektif kepentingan terbaik bagi anak. Menanggapi putusan pengadilan yang menjatuhkan vonis 9,5 tahun penjara kepada pelaku dewasa . Menteri PPPA menyampaikan bahwa Undang-Undang (UU) Nomor 35 Tahun 2014 tentang Perlindungan Anak khususnya Pasal 76C jo. Pasal 80 ayat (3).

Di mana, setiap orang yang melakukan kekerasan terhadap anak hingga mengakibatkan kematian diancam pidana penjara paling lama 15 tahun dan/atau denda paling banyak Rp3 miliar. Ketentuan tersebut menegaskan posisi anak sebagai kelompok rentan yang memerlukan perlindungan hukum maksimal.

READ  Kerjasama Apik PGN-LNG Gali Potensi Gas Alam Cair di Jawa Timur

KemenPPPA menilai meskipun putusan tersebut tidak bertentangan dengan hukum positif, namun secara substantif belum sepenuhnya mencerminkan rasa keadilan bagi korban anak.

Vonis tersebut masih berada jauh di bawah ancaman maksimal, padahal perbuatan dilakukan terhadap anak usia sangat rentan, dilakukan oleh orang dewasa, dalam relasi kedekatan dan kepercayaan, serta mengakibatkan kematian.

“Korban merupakan balita yang berada pada usia sangat rentan. Dalam kondisi seperti ini, penting bagi seluruh proses penegakan hukum untuk mempertimbangkan secara menyeluruh dampak yang dialami anak sebagai korban,” ujar Menteri PPPA Arifah Fauzi dilansir dari laman KemenPPA, Kamis (25/12/2025).

READ  Sekda Palembang Kenalkan Program Rantang dan Ado Gawe ke Bappenas

Menteri PPPA menekankan bahwa setiap putusan pengadilan merupakan kewenangan lembaga peradilan yang harus dihormati. Namun, pendekatan yang mengutamakan kepentingan terbaik bagi anak sebagai korban perlu terus diperkuat agar perlindungan anak dapat terwujud secara optimal.

Menurutnya, KemenPPPA memandang penanganan perkara kekerasan terhadap anak perlu dilakukan secara hati-hati, proporsional, dan berorientasi pada perlindungan hak hidup serta keselamatan anak.

READ  Ratusan Peserta Ramaikan Prodia Healthy and Fun With Community di Palembang

Sebagai langkah konkret, Kemen PPPA terus memperkuat peran Unit Pelaksana Teknis Daerah Perlindungan Perempuan dan Anak (UPTD PPA) dalam memberikan pendampingan kepada korban dan keluarga sejak tahap awal penanganan perkara hingga proses persidangan.

“Pendampingan tersebut bertujuan memastikan kondisi fisik, psikis, dan sosial korban menjadi bagian dari pertimbangan dalam proses penegakan hukum,” ucapnya.

KemenPPPA secara berkelanjutan mendorong penerapan pedoman peradilan ramah anak, memperkuat koordinasi dengan aparat penegak hukum, serta menyampaikan masukan kebijakan kepada Mahkamah Agung guna mendukung penegakan hukum yang semakin berperspektif anak. ***