Si Cantik dari Muara Enim, Berkah Alam Sumsel untuk Ketahanan Energi Indonesia

Berita, Daerah, Muaraenim16 Dilihat

MUARA ENIM, SEPUTARSUMATERA.COM – Sumur Cantik. Mendengar namanya pertama kali mungkin akan terasa aneh. Dua kata yang tidak sinkron untuk disatukan, ternyata menjadi bukti nyata dari sebuah usaha dan kerja keras, untuk mewujudkan ketahanan energi di Indonesia, terutama dari tanah Sumatra.

Eksplorasi Sumur Cantik ini juga menjadi gambaran betapa besar kekayaan Sumber Daya Alam (SDA) di Sumatera Selatan (Sumsel). Mendapat julukan sebagai Lumbung Energi di Indonesia, berbagai daerah di Sumsel pun menjadi tonggak ketahanan energi Indonesia, untuk memenuhi kebutuhan minyak dan gas demi mewujudkan Indonesia Maju.

Salah satu daerah yang memiliki kekayaan SDA yang besar adalah Kabupaten Muara Enim Sumsel, yang menjadi lokasi penemuan Sumur Cantik yang menghasilkan gas alam. Bentangan alam dan hutan belantara di kabupaten yang dijuluki Serasan Sekundang tersebut, menyimpan banyak titik-titik sumber migas di perut bumi, yang bisa diandalkan untuk mewujudkan target pemerintah dalam meningkatkan ketahanan energi di Nusantara.

Sebelumnya, Wakil Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Yuliot Tanjung mengatakan, pemerintah menargetkan produksi 1 juta barel minyak per hari dan 12 miliar kaki kubik gas per hari sebagai bagian dari upaya memperkuat kedaulatan energi nasional.

Untuk mewujudkan ketahanan energi Indonesia tersebut, SKK Migas bersama Kontraktor Kontrak Kerja Sama (KKKS) PT Sele Raya Belida mengeksplorasi kekayaan alam di Kabupaten Muara Enim Sumsel.

Nama Sumur Cantik pertama kali dikenalkan oleh Elvi Kurnia Hakim, Field Superintendent PT Sele Raya Belida, saat para awak media mengikuti Media Field Trip SKK Migas – KKKS Sumatera Selatan bersama Forum Jurnalis Migas (FJM) Sumsel, di Wilayah Kerja (WK) Belida, di Desa Lembak Kabupaten Musi Banyuasin, Senin (8/6/2026) pagi.

Elvi menjelaskan, penyematan nama ‘Cantik’ tersebut sebenarnya adalah harapan WK Belida akan hasil operasional drilling di salah satu titik di Kabupaten Muara Enim, yang akhirnya terwujud dengan hasil drilling menghasilkan gas Methane yang berkualitas.

Elvi Kurnia Hakim, Field Superintendent PT Sele Raya Belida, menjelaskan tentang Sumur Cantik saat para awak media mengikuti Media Field Trip SKK Migas - KKKS Sumatera Selatan bersama Forum Jurnalis Migas (FJM) Sumsel, di Wilayah Kerja (WK) Belida, di Desa Lembak Kabupaten Musi Banyuasin, Senin (8/6/2026) pagi (Nefri Inge / Seputarsumatera.com)
Elvi Kurnia Hakim, Field Superintendent PT Sele Raya Belida, menjelaskan tentang Sumur Cantik saat para awak media mengikuti Media Field Trip SKK Migas – KKKS Sumatera Selatan bersama Forum Jurnalis Migas (FJM) Sumsel, di Wilayah Kerja (WK) Belida, di Desa Lembak Kabupaten Musi Banyuasin, Senin (8/6/2026) pagi (Nefri Inge / Seputarsumatera.com)

“Sumur cantik itu adalah harapan kita bisa dapatkan produksi gas yang cantik, untuk masa depan yang cantik. Kita produksi dari tahun 2019, estimasi 2024 habis, ternyata masih ada. Kita akan melakukan perbaikan sumur di 2026 ini, dan terpenting, capaiannya bisa terwujud yakni 1,3 juta barel/m³ per hari,” katanya, saat ditulis Rabu (10/6/2026).

Lokasi Sumur Cantik tersebut awalnya hanya dianggap warga lokal, sebagai kawasan yang menyeramkan dan banyak hal-hal mistis yang terjadi di sana. Namun dari cerita rakyat tersebut, tersembunyi sumber gas alam yang begitu ‘cantik’ dan bisa dieksplorasi untuk menopang pasokan energi di Indonesia.

Kepala Departemen Formalitas dan Komunikasi SKK Migas Sumbagsel Safei Sapri berkata, untuk mencapai ke Sumur Cantik, tim WK Belida harus melewati jalan setapak, menembus kebun karet dengan jarak yang panjang.

READ  Inovasi Sabun Antiseptik SMKN 1 Pemulutan, Terobosan Baru dalam Menjaga Kesehatan

Walau Sumur Cantik sudah ‘walk out’, namun penemuan lokasi drilling tersebut menjadi penyemangat para tim WK Belida untuk kembali meningkatkan produksi migas, dengan melakukan perbaikan sumur-sumur yang bisa diproduksi kembali.

“Bisa dengan meningkatkan produksi, dengan mengaktifkan sumur yang sedang berjalan. Karena migas termasuk energi tak terbarukan. Jika tiap hari dilakukan eksploitasi, pasti sumur akan habis. Sehingga perlu dilakukan perbaikan-perbaikan sumur. Jika tidak diproduksi lagi, sumur harus ditutup dan dijaga, agar tidak menimbulkan masalah di lain hari,” ungkap Safei.

Dia yakin, setiap melakukan kegiatan eksplorasi kembali di Kabupaten Muara Enim, pasti rezeki akan selalu datang ke PT Sele Raya Belida, apalagi hasil eksplorasi tersebut bisa meningkatkan produksi energi nasional dan pendapatan daerah. Hal tersebut selaras dengan amanah dari Presiden Indonesia Prabowo Subianto, terkait Asta Cipta, Swasembada dan Ketahanan Energi Indonesia.

Sumur Pengeboran

Dipo Agung, HSE Field PT Sele Raya Belida menjelaskan delapan sumur pengeboran yang dilakukan di Wilayah Kerja (WK), yakni Sungai Anggur-1 (SA-1), Sungai Cantik, Sungai Anggur Selatan-1 (SAS-1), SAS-2, SAS Utara-1, WSA, SA-3 NF dan SA 3.

Diawali dengan SA-1 di tahun 2019 dengan memproduksi 700 barrel minyak dan saat ini sudah tidak berproduksi lagi karena kandungan minyaknya sudah menipis. Lalu ada Sumur Cantik, yang merupakan sumur yang menghasilkan gas alam yang berkualitas.

Pengeboran dilanjutkan di SAS-1 yang diproduksi di tahun 2023 dan akhirnya berhenti pada tahun 2025, karena kadar air formasi yang naik ke atas saat penyedotan lebih besar dibandingkan kandungan minyaknya.

“Sembari SAS-1 berjalan, kita juga mengeksplorasi SAS-2 dan berhasil memproduksi sekitar 1.600 barrel minyak/hari dan sampai sekarang masih jadi andalan kita,” ujarnya.

Dipo Agung, HSE Field PT Sele Raya Belida saat diwawancarai awak Seputarsumatera.com (Nefri Inge / Seputarsumatera.com)
Dipo Agung, HSE Field PT Sele Raya Belida saat diwawancarai awak Seputarsumatera.com (Nefri Inge / Seputarsumatera.com)

Walau beberapa sumur mampu memproduksi migas, namun PT Sele Raya Belida juga kerap gigit jari dengan pengeboran sumur di beberapa titik yang tidak menghasilkan apapun. Seperti SAS Utara-1 dan Sumur Lebong Baru 1.

Perjuangan mereka tak berhenti di situ saja. Tim PT Sele Raya Belida juga melanjutkan eksplorasi pengeboran di SA-3 yang satu wilayah dengan SA-1, yang disebut sebagai development.

“Di SA-3, secara data sismik masih cukup berpotensi, jadi kita masih menunggu hasilnya,” katanya.

Untuk jarak pengeboran sumur sendiri, cukup diperhitungkan oleh tim di lapangan. Jarak antara Sumur Cantik ke SAS-1 sekitar 1,7 Kilometer (Km) dan ke SAS-2 sekitar 1,2 Km. Sedangkan SAS-2 dan SAS Utara-1 jaraknya 10 meter.

Berbicara tentang kualitas migas dari hasil pengeboran, tanah di Sumsel dianugerahi kekayaan Sumber Daya Alam (SDA) yang melimpah, termasuk hasil buminya. Seperti Sumur Cantik. Dari namanya saja, tergambarkan kecantikan SDA dari perut bumi di Kabupaten Muara Enim Sumsel.

READ  Pertamina Patra Niaga Raih PROPER Emas, Lewat Inovasi FAME dan Manfaat Eceng Gondok di Surabaya

Dari Sumur Cantik, mengandung gas Methane yang tinggi dengan kadar CO2 yang sedikit. Untuk proses pengeboran hingga lifting ke pipa, prosesnya relatif aman, smooth dan disalurkan ke PT Pertamina Gas Nasional (PGN) Tbk.

“Sesuai dengan namanya, cantik. Dan itu adalah bagian dari doa. Karena WK Belida berhasil mengebor sumur yang mengandung gas yang kualitas dan kuantitasnya cukup signifikan. Sumur Cantik cuma ada satu di sini, masuk dalam WK Belida di K3S di Pulau Sumatra,” ungkapnya.

Kualitas gas alam dari Sumur Cantik juga lebih bagus dibandingkan gas yang dihasilkan dari pengeboran SAS-2. Di mana, kadar gas di SAS-2 masih banyak mengandung kadar CO2, sehingga harus melewati standar pengolahan dari PT Pertamina, sehingga kadarnya sesuai.

Crued Oil yang menjadi campuran chemical(kiri), kondensat liquid dari SAS-2 (tengah) dan kondensat bening dari Sumur Cantik (kanan) dari hasil pengeboran sumur di Kabupaten Muara Enim Sumsel (Nefri Inge / Seputarsumatera.com)
Crued Oil yang menjadi campuran chemical(kiri), kondensat liquid dari SAS-2 (tengah) dan kondensat bening dari Sumur Cantik (kanan) dari hasil pengeboran sumur di Kabupaten Muara Enim Sumsel (Nefri Inge / Seputarsumatera.com)

Dalam pengeboran, ada cairan kondensat yang terbentuk saat gas Methane naik ke atas. Adanya sifat kondensasi yang muncul dengan tekanan gas besar, sehingga kondensat liquid tersebut terbawa dan sifatnya mudah terbakar seperti bensin.

“Ada liquid kondensat bening yang berasal dari Sumur Cantik. Ada juga kondensat berupa minyak kental yang berasal dari SAS-2 dan Crued oil yang dicampur dengan chemical, yang akan kita lifting ke PT Medco. Untuk pengeboran sumur, kedalamannya bisa 6.000 feet atau sekitar 2 meteran. Sedangkan total minyak yang sudah diproduksi ada sekitar 51rb barrel/bulan dan untuk gas sekitar 90 MMSCF /bulan,” katanya merinci.

Tantangan Drilling

Dipo Agung mengakui, untuk melakukan pengeboran di Kabupaten Muara Enim dan Banyuasin, melewati berbagai tantangan yang harus dilewati secara sistematik. Yang terutama adalah sosialisasi ke masyarakat di area terdampak, sebelum melakukan operasional drilling.

“Di lokasi kan ada pemukiman warga, kita tidak bisa langsung tunjuk lokasi ada minyak dan langsung pengeboran, itu tidak boleh. Harus pemetaan dan mengajukan izin ke SKK Migas. Dari sana, akan ada prosedur survei, pengkajian dan lainnya. Jika dirasa aman, kita akan mengajukan usulan operasional drilling dan juga adanya pembebasan lahan,” ujarnya.

Wilayah Kerja (WK) Belida di PT Sele Raya Belida Kabupaten Muara Enim Sumsel (Nefri Inge / Seputarsumatera.com)
Wilayah Kerja (WK) Belida di PT Sele Raya Belida Kabupaten Muara Enim Sumsel (Nefri Inge / Seputarsumatera.com)

Perizinan juga harus sesuai prosedur, yakni dari Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) serta dari SKK Migas. Serta harus mengantongi Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (AMDAL) dan Upaya Pengelolaan Lingkungan Hidup dan Upaya Pemantauan Lingkungan Hidup (UKL-UPL), berdasarkan regulasi di Indonesia seperti UU. Nomor 32 Tahun 2009.

Dipo berkata, WK Belida melakukan perambahan lingkungan, dengan membuka hutan tapi harus tetap melakukan pelestarian alam, sehingga tidak terdampak faktor buruk dan potensi bahaya di lokasi akibat aktivitas operasional drilling.

“Untuk AMDAL, luasan wilayahnya antara sekitar 1-5 hektare, jadi kita cukup UKL-UPL saja di dinas lingkungan hidup terkait. Sedangkan untuk biaya, kita mengajukan ke SKK Migas. Itulah tantangan kami, harus bisa melakukan pengeboran sesuai dengan ketentuan yang berlaku,” tambah Dipo Agung.

READ  Pertamina Patra Niaga Sumbagsel Perkuat Komitmen Dukung UMKM Binaan dengan Perluas Akses Promosi

Dari sisi Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) juga diperhatikan di lapangan. Dalam operasional pengeboran, ada potensi besar terjadi ledakan, kebakaran dan kecelakaan kerja. Apalagi harus mengoperasionalkan alat berat, sehingga membutuhkan tenaga kerja ahli di bidangnya, agar pengeboran bisa sesuai standar dan tidak ada kecelakaan di lapangan.

Gas kompressor yang digunakan dalam pengolahan produksi migas di PT Sele Raya Belida di Kabupaten Muara Enim Sumsel (Nefri Inge / Seputarsumatera.com)
Gas kompressor yang digunakan dalam pengolahan produksi migas di PT Sele Raya Belida di Kabupaten Muara Enim Sumsel (Nefri Inge / Seputarsumatera.com)

Beberapa tenaga kerja yang dikerahkan dalam operasional drilling migas, wajib mengantongi sertifikasi dasar pengeboran, sertifikasi K3 dan lainnya. Terutama para pekerja di bidang operator drilling, tenaga ahli pengeboran, pengawas pengeboran, bagian chemical yang memahami suhu tanah yang bisa diubah dari keras dan panas menjadi tanah yang lembut, agar mudah dilakukan pengeboran.

“Treatment tersebut tidak bisa terburu-buru, harus sesuai faedah keselamatan dan harus yang berpengalaman yang melakukannya,” katanya.

Dia juga menjelaskan secara rinci, bagaimana pengeboran minyak dilakukan, dari bentuk minyak yang encer saat di bawah tanah menjadi kental saat ditarik ke atas. Sehingga ada cairan kimia khusus, untuk mengentalkan minyak yang bisa memudahkan disalurkan ke pipa penyalurannya.

Setelah adanya campuran tersebut dan dilakukan berbagai treatment, minyak akan di-lifting ke PT Medco dan akan disalurkan ke Pertamina Plaju untuk penggunaan Bahan Bakar Minyak (BBM).

Keselamatan Kerja dan Pemberdayaan Masyarakat

Tim WK Belida PT Sele Raya Belida menggunakan APD lengkap saat ke lapangan (Dok. Humas SKK Migas / Seputarsumatera.com)
Tim WK Belida PT Sele Raya Belida menggunakan APD lengkap saat ke lapangan (Dok. Humas SKK Migas / Seputarsumatera.com)

Dipo mengatakan beberapa fasilitas produksi di PT Sele Raya Belida, yakni tanki storage oil, separator, unit monetisasi gas, tanki crued oil, area pompa, unit gas kompressor dari flow line, CO2 monitor dan lainnya. Lalu ada storage cruid oil di Kasodimeter untuk pemeriksaan minyak sebelum dilanjutkan ke pompa transfer.

Untuk keamanan lingkungan, salah satu fasilitasnya yakni Waste Water System, yang digunakan untuk mengolah kembali air yang ikut terdorong ke atas saat pengeboran dan bisa dimanfaatkan kembali.

“Air dari SAS-1 kita olah dari Waste Water System dan kita manfaatkan kembali, salah satunya untuk fire pomp yang bisa digunakan untuk pemadam kebakaran. Lalu ada fire hidrant dan watercanon yang digunakan ketika terjadi kebakaran atau kebocoran minyak,” ucapnya.

Para petugas di lapangan, termasuk tim pemadam kebakaran, sudah mengikuti berbagai pelatihan teknis, sehingga mampu mengatasi potensi bahaya di lapangan. Para pekerja juga diwajibkan menggunakan Alat Pelindung Diri (APD) yang lengkap, baik pelindung kepala, pakaian hingga pelindung kaki.

Karena areal kerja di industri migas mempunyai potensi bahaya kerja yang besar, PT Sele Raya Belida juga rutin menggelar medical check up, untuk memastikan kondisi para pekerja fit sebelum memasuki area kerja.

Tidak hanya berfokus pada mewujudkan ketahanan energi saja, keberadaan KKKS SKK Migas tersebut juga membaur dengan masyarakat sekitar. Yakni dengan memberikan banyak manfaat positif yang membangun untuk kehidupan masyarakat yang lebih baik.

SKK Migas - PT Sele Raya Belida berfoto bersama para awak media dalam rangka kegiatan Media Field Trip SKK Migas - KKKS Sumatera Selatan bersama Forum Jurnalis Migas (FJM) Sumsel, di Wilayah Kerja (WK) Belida, di Desa Lembak Kabupaten Musi Banyuasin, Senin (8/6/2026) pagi (Dok. Humas FJM Sumsel / Seputarsumatera.com)
SKK Migas – PT Sele Raya Belida berfoto bersama para awak media dalam rangka kegiatan Media Field Trip SKK Migas – KKKS Sumatera Selatan bersama Forum Jurnalis Migas (FJM) Sumsel, di Wilayah Kerja (WK) Belida, di Desa Lembak Kabupaten Musi Banyuasin, Senin (8/6/2026) pagi (Dok. Humas FJM Sumsel / Seputarsumatera.com)

Menurut PR Supervisor PT Sele Raya Belida Valentina, ada banyak program yang diperuntukkan bagi masyarakat sekitar, mulai dari sektor kesehatan, pendidikan, lingkungan, infrastruktur dan lainnya.

Program Pengembangan Masyarakat (PPM) PT Sele Raya Belida berupa, peningkatan kesehatan dengan menggelar sunatan massal di 10 desa di Kecamatan Gelumbang dan Lembak Muara Enim, layanan pengobatan gratis, bantuan peralatan kesehatan dan makanan bergizi bagi balita dan ibu hamil di Kabupaten Banyuasin dan lainnya.

“Kita juga memberikan pendidikan berupa rehab gedung di SDN di Gelumbang, membangun 12 unit jamban sekolah, peningkatan sarana dan prasarana di PAUD di Desa Pagar Bulan Rantau Bayur Banyuasin dan masih banyak lagi. Untuk lingkungan, ada juga berbagai kegiatan, salah satunya penanaman bibit mangrove di Banyuasin,” ujarnya. ***

 

Penulis : Nefri Inge